Sunday, December 4, 2016

Menemukanmu

Datang bagaikan angin sejuk di tengah hiruk pikuk yang membuat sesak. Yang semula datar tanpa lonjakan, berjalan tanpa tujuan. Tak ada arah kala pikiran kita bertarung dengan kehebatan masing-masing. Kau dengan egomu, aku dengan egoku. Ah, bukan ego. Ini berbeda. Mungkin lebih tepatnya jika dinamakan percakapan sederhana dengan perbekalan se'ada'nya.

Dia pergi, aku mencari. Dia hilang, aku pusing bukan kepalang. Entah. Siapa dia? Sebatas biasa saja. Aneh. Memang. Dia datang, aku senang. Dia selalu ada, disitu aku bahagia. Sederhana.

Semoga kesepakatan tak mengacaukan segalanya. Bahwa hati hanya bisa dikondisikan, bukan dipaksakan. Tak selamanya kita akan bertarung dengan cara yang indah, kelak pertikaian kecil menjadi bom waktu yang siap menghancurkan segala rencana. Oh Tuhan, tolong jangan. Biarlah tetap jadi sederhana, sesederhana waktu mempertemukan dan menyatukan dengan cara yang serupa tapi lebih istimewa.

Dia membuatku mengerti bahwa keterpaksaan memang tak pantas untuk dipertahankan. Bahwa hakikat melepaskan jauh lebih baik untuk dilakukan dalam sebuah perjuangan. Ya, melepaskan itu berjuang, berjuang untuk kebahagiaan masing-masing dengan cara yang tak asing. Dan kini, Tuhan, Kau berikan pemahaman yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Bahwa hakikat melepaskan memang mendatangkan yang jauh lebih baik. Ya, lebih baik untuk versi diriku sendiri, terlepas dari penilaian orang lain tentang aku dan dia.

Dan dia telah membuatku mengerti arti menemukan, bukan mencari. Menemukan adalah suatu cara ketika keduanya sama-sama bergerak menuju satu titik yang sama. Untuk tujuan yang sama, dengan harapan pengabulan doa yang sama. Sedangkan mencari adalah ketika pergerakan hanya terjadi pada salah satu di antara keduanya. Sesederhana itu.

Dan ya..
Ku harap aku tak perlu mencari lagi
Dan ya..
Ku harap aku telah menemukan yang terbaik versiku sendiri
Dan ya..
Semoga itu kamu

Friday, July 22, 2016

Tebak Rasa

Mencoba mengerti bahwa masih ada ketakutan dan keresahan. Masih belum mampu melakukan selayaknya yang harus dilakukan. Bukan karena apa. Hanya saja masih ada yang mengganjal dan menahan. Entah apa yang menjadi kendala. Aku saja tak mampu memprediksi dan mengenali.

Jika ingin bermain tebak rasa, mungkin kata bimbnag bertengger di sana. Harusnya kamu paham bahwa aku masih tidak bisa paham seperti sedia kala. Aku masih menutup (hampir) rapat. Entah menutup untuk segala bentuk atau memang terkhusus untuk dirimu saja. Jika aku boleh berkata, kita masih belum menemukan satu kata. Bagaimana bisa satu hati? Kau yang selalu ingin didengar, namun tak bisa menebak keadaan. Aku yang selalu ingin disesuaikan, namun tak bisa mencoba bertahan. Mungkin memang aku yang tak mengutarakan. Namun,kau tahu bahwa tak mudah bagiku untuk sampai hati, bukan?

Aku takut rasa yang menutup ini hanya untuk kamu. Aku yang pernah begitu lepas untuk membagi rasa, kini hanya sekedar berbagi kata pun aku ragu. Kau yang berhasil membuka jalan rasaku, mengapa kau juga yang menutup tanpa kumau? Tapi kumohon jangan kau hadirkan kambing hitam dalam peliknya masalah ini. Semua hanyalah keterbatasanku saja. Tak mampu menjadi yang kau mau. Aku mencoba dan aku tak mampu. Tak bisa lagi menyayangmu dengan sisi lainku. Aku tak sanggup menjadi biasa setelah kau ubah aku menjadi tak biasa.

Bukan soal cinta, rasa, atau bualan kata. Tapi juga tentang mereka yang tak pahami kisah kita. Maafkan, adanya mengerti perasaanku melebihi kamu yang dapat mencintaiku sekuat hatimu. Sebab hati tak bisa dipaksakan. Memang benar. Yang datang perlahan nyatanya lebih lama bertahan, meski (masih) dalam rasa yang (mungkin) berbeda. Aku percaya, kesamaan akan mencapai penantian.

Jadi...
Bagaimana rasaku, menurutmu?


Jakarta, entah kapan masanya (karena alpa)
Dengan beberapa perubahan

Wednesday, July 13, 2016

Jangan Sampai Kau Tahu

Hai, apa kabar masa yang pernah kita tinggalkan jauh dulu?
Yang pernah menelisik diam-diam dalam tatapan
Mengaktifkan kembali radar yang lama terpendam
Ah, ternyata pernah ada masa itu

Menurutku, jika posisimu digantikan orang lain, mungkin tidak semuanya mau untuk berpura-pura mencintaiku hanya untuk mengelabui berujung tawa. Betapa bisingnya otakku memikirkan bagaimana bisa kamu menerima ajakan gila itu hanya demi mengukir kisah unik dalam hidupku. Ah, tapi terima kasih banyak. Kamu adalah satu-satunya orang menyebalkan yang tetap saja membuatku tak bisa berhenti mengucap syukur bahwa (mungkin) pernah ada aku dalam hari-harimu. Dulu.

Orang berhak memasang-masangkan hati pada siapapun yang dikehendaki. Namun jika kau tanyakan aku, aku tak ingin memasangkan hatiku pada hatimu. Aku lelah memaksakan pasangan-pasangan yang kumau jika pada akhirnya semua terlepas dalam perjalanan. Aku tak ingin jika aku dipasangkan denganmu tapi aku kelak menjadi masa lalumu. Sungguh, bantu aku untuk menjauhkan itu.

Janji Tuhan membuatku ketagihan. Ketika aku tak memasangkan kunci pada sisi manapun, Ia memberiku celah terbaik yang tak pernah sedikitpun kubayangkan. Jika kau ingin tahu rasanya seperti apa, sungguh indah dari yang pernah kau kira. Meski semua tak terlepas dari rasa sakit yang menjerit kapan saja, rasa indah itu terbalut syukur tanpa henti. Rasakanlah, jika kau penasaran.

Aku senang berkaca pada dua sosok inspiratif yang-mungkin-kau-tahu-maksudku. Selalu ada tanpa harus meminta. Tanpa mengukir harap. Membiarkan semua berjalan apa adanya. Menghindari paksaan ego. Mengutamakan proses keikhlasan. Ah, semua berujung sangat manis dan membuatku iri. Maaf. Biar aku menjadi bunglon dan plagiat untuk urusan ini. Tenang, aku takkan menyakiti dan mendahului, seperti dia. Agar aku mengikuti jejaknya. Jangan sampai kau tahu (bahwa aku merindumu selalu).

Tunggu aku dalam ketidaktahuanmu
Biar tetap seperti itu
Agar aku tak pernah menjadi masa lalumu

Friday, June 24, 2016

Biar Tuhan

Semoga Tuhan menuntun jalanku yang kadang bersinggungan dengan keinginan duniawi. Jika memang yang terbaik ada dalam diri yang diingini, kelak jarak tidak lagi menjadi masalah pelik yang dapat dikulik. Pun sebaliknya, jika bukan yang terbaik, kelak pelajaran dapat menjadi bekal berharga untuk menghadapi masa depan yang tentunya jauh lebih baik dari yang pernah ada. Aku percaya, malaikat pun tahu siapa yang menjadi juara dalam pertarungan sunyi ini. Berjuang dalam hati, menanam dalam diri. Bukan tanpa usaha. Biar Tuhan yang menilai segala usaha tanpa mengharap semua orang tahu. Ya, mereka tak tahu bagaimana keadaannya. Karena setiap orang memang berhak menilai tanpa tahu hiruk-pikuknya sebuah perjalanan.

Biar... Segala kepolosan merajut jalan. Tanpa pernah berharap lebih dari apa yang diinginkan. Akan ada kebahagiaan saat kau lupa pada dirimu. Tak perlu memaksakan. Biarkan berjalan beriringan, selanjutnya keinginan akan membersamai takdir Tuhan. Aku percaya, melakukan cinta yang tanpa diminta kelak akan menjatuhkan hati pada cerita tanpa skenario manusia.

Percayalah, aku percaya skenario Tuhan melebihi apapun. Yang tak pernah disangka, tanpa pernah tahu alurnya seperti apa, tanpa pernah memaksa cerita dengan intervensi keserakahan. Biarkan Tuhan yang berbicara dan mengetuk perlahan.

Aku percaya, bahagia itu sederhana. Sesederhana melepaskan dan merelakan segalanya demi menjadikannya nyata.

Biar Tuhan yang berkata. Biar Tuhan yang menuntun jalan.
Usaha tanpa memaksa. Berharap sejadi-jadinya tanpa terlelap

Sunday, June 19, 2016

Itu Saja

Aku rindu padamu.... Jarak yang pernah mengernyitkan dahiku karena tak tahan pada luasnya bumi
Aku rindu padamu.... Waktu yang pernah mendetakkan jantungku kala tak bisa bersinggungan
Aku rindu padamu.... Sebaris kalimat penggugah rasa yang tak henti membelalakkan mata

Yang jelas.. Ada rindu yang berhasil membuat sendu sekaligus ragu. Bagaimana akhirnya, tak ada yang tahu. Hanya bertumpu pada alamiah manusia yang selalu dikelilingi rasa butuh. Sekalinya datang, hanya bisa tersenyum haru. Bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Jika rindu dipaksa untuk menahan malu, selebihnya hanya akan memperumit keadaan. Biar cinta bertopang pada pemberi. Agar tak ada sakit hati yang menghujam lagi. Biar hati menyendiri sesuka hati. Agar tak ada luka batin pengganggu hari demi hari.

Biar hati menunjuk tuannya sesuka hati. Meski tak menjamin pasti, setidaknya ia bisa bebas mengucap nama. Entah dirasa atau bukan, yang jelas ia berhak untuk menjadikannya doa. Masalah terkabul atau tidak, biar menjadi hak pemilik kuasa saja. Tak ada salahnya hati menaruh harap pada batas sewajarnya, kan? Biar rasa harap itu berada pada kadarnya, agar tak ada kambing hitam yang disalahkan ketika tak satupun terwujud. Jangan sampai.

Semoga....
Segala kerinduan yang tetap kusekap dalam dekapan kelak menuai rasa bahagia. Entah bagaimana caranya, yang kuyakini dalam ketepatan pasti bermasa. Cepat atau lambat asalkan bahagia. Itu saja.

Hanya Butuh Penerimaan

Semakin aku membaca, semakin aku takut. Semakin aku menelusuri kata demi kata yang kutahu tersusun dengan rumit, aku semakin resah takut hilang arah. Ia berbisik untuk tinggal, namun secarik huruf berjejeran itu menolak ingin. Tuhan, aku takut. Bayang-bayang ini sangat menghantuiku. Entah. Orang bilang ini alamat rindu yang tak berkesudahan. Tapi mengapa.... Apa yang ingin-sekali-kusebut rumah seringkali goyah dan membuatnya patah?

Mungkin memang aku rindu. Ada lagu yang menarik ungkapan bisu. Hendak dikata apa jika berujung malu? Bukan. Bukan malu untuk mengatakan bahwa aku rindu. Hanya saja malu untuk segala muara dengan aliran yang kubuat sendiri. Apa yang kumau telah sesuai dengan rencanaku. Namun aku pula yang harus tersudut hampir kaku. Mana mungkin aku mengorbankan seluruh jalan yang tertata sedemikian rupa hanya untuk diruntuhkan begitu saja?

Ah, tidak. Terima kasih telah membuatku tenang. Terima kasih telah membuka lapang pikiran yang kubuatnya sesat. Bahwa hati hanya perlu dikondisikan, bukan dipaksakan. Boleh saja merasa terluka tanpa perlu berpura-pura bahagia. Terima saja. Bahwa diri harus penuh penerimaan, bukan keterpaksaan. Lepaskan saja bila kau tak bisa bertahan. Apa adanya semestinya akan berujung bahagia. Benar yang dikatakan banyak orang, tidak ada kesempurnaan dalam bentuk apapun di dunia ini. Kesempurnaan hanya akan melahirkan banyak tuntutan. Pada akhirnya akan berbuntut tekanan yang berkepanjangan. Sebaliknya, dengan penerimaan akan melahirkan segala kelapangan. Menerima bahwa setiap sisi baik selalu memiliki sisi buruk. Melengkapi sudut-sudut kosong pada masing-masing hati. Bukankah itu lebih berarti?

Tidak mudah, memang. Sama sepertiku, tak mudah menerima. Tak hanya menerima orang di luar sana yang-entah-siapapun-itu, menerima kondisi hati dan diri sendiri pun belum piawai. Biar kita saling belajar untuk menerima masing-masing sebelum saling menerima satu sama lain. Terlebih untuk saling menggenapi, perlu menambal segala keganjilan diri terlebih dahulu.

Selamat menempuh hari-hari di ruang tunggu. Bukankah tiada yang lebih indah saat usaha dan doa dipertemukan?

Saturday, April 23, 2016

Ini Untukmu

Kalau kamu baca tulisan ini, ini untukmu....
Untukmu, yang entah siapa aku tak tahu, entah dimana aku tak tahu, entah untuk apa aku tak tahu.

Kita akan saling jatuh cinta dengan cara kita sendiri. Tanpa saling memberi tahu, tanpa pernah saling menyebut nama di depan orang lain. Dan kita akan tetap berjalan dengan cara kita sendiri, tidak peduli orang mau bilang apa. Sampai akhirnya kita merasakan amannya jatuh, jatuh cinta pada orang yang tepat.

Lelah rasanya membanggakan satu nama yang nyatanya berujung pada sebuah perpisahan. Mungkin Tuhan hendak berbicara bahwa apa yang bisa dibanggakan pada satu nama di masa kini. Yang jelasnya saja belum tentu menjadi masa depanmu. Terima kasih telah mengajarkan aku indahnya membisu dan menikmati rasaku sendiri. Aku banyak belajar dari petuah-petuah nyata yang hadir di depan mata. Indahnya memendam sambil meyakini bahwa kelak kau akan datang menyambut pintu yang lama kututup rapat-rapat.

Kalau kamu baca tulisan ini, ini untukmu...
Untukmu, yang mungkin saja kini tengah bersama orang lain memadu kasih yang kau kira akan bersamanya

Kita akan menyadari bahwa pertemuan tak disengaja akan menjadi kisah menarik untuk ditertawakan kelak. Ah, atau kita justru hanya akan tersenyum sederhana kala menyadari bahwa cinta tak serumit yang dibayangkan. Menghindari banyak drama, menyingkirkan banyak emosi sia-sia khas remaja. Itulah alasan kita berdiam sekarang dan bertemu nanti, kan?

Kalau kamu baca tulisan ini, ini untukmu...
Untukmu yang mungkin sedang berjuang untuk bertahan dalam sepi sepertiku, namun meyakini ada masing-masing 'kita' di hati berlawanan

Kita akan bersujud penuh syukur dalam ikatan tanpa ingkar. Amanah yang kelak akan kita topang bersama di hadapanNya, berjanji untuk memikul dan belajar bersama sepanjang waktu. Tak peduli orang mau bilang apa dengan kesederhanaan dan apa adanya kamu, pun aku. Sampai akhirnya kita mencintai rasanya pulang, pulang pada hati ternyaman untuk disinggahi.

Kalau kamu baca tulisan ini, ini untukmu...
Untukmu, yang (sampai sekarang) tak berani kusebut namanya
Biar aku terkejut dengan rahasia Tuhan dan caranya membawamu ke hadapanku
Entah dengan yang terselip dalam doaku, atau justru pemain baru untuk kisah tanpa akhir
Yang jelas, ini untukmu

Wednesday, March 23, 2016

Rela Tersakiti

Mana mau sama penjahat?
Tidakkah kau jera disakiti dan ditikam sedemikian rupa?

Untuk apa bertahan dengan sosok yang gemar menyakiti? Sebagian dari mereka memilih bertahan hanya karena enggan berpindah ke lain hati. Mengukir kisah baru, menanam jejak bersama, dan merantai tapak kehidupan berdampingan. Sebagiannya lagi beralih meinggalkan hanya karena enggan membersamai orang jahat dan hendak memperbaiki lubang di hati. Entah. Setiap sisi punya alasan masing-masing. Bertahan dan rela tersakiti, atau memilih berhenti dan beranjak pergi. Bebas. Jiwamu memiliki hak untuk hidup. Kini tergantung kau, bagaimana caranya kau memperlakukan hati dan hidupmu demi kebahagiaanmu.

Tak sedikit mereka yang rela tersakiti hanya karena ingin bertahan dengan egonya masing-masing. Ah, dia akan berubah kelak, dia 'kan beralih, jangan mundur, katanya begitu. Ah, menurutku itu hanya upaya menghibur diri. Memang, tak ada yang tahu bagaimana masa depan yang hendak kau sapa. Yang jelas, tentu kita akan berusaha melakukan yang terbaik untuk menciptakan masa depan kita sendiri. Mungkin dengan bertahan, kau akan menunggu hal-hal yang tak jelas bisa kau tunggu, namun bisa jadi ini hal yang menyenangkan, menurutmu. Meski Tuhan punya cara yang hebat dalam menunjukkan, yang penting kau berusaha menyenangkan hatimu dengan memelihara ego-yang-kadang-terkesan-bodoh-soal-menunggu ketidakpastian. Aku pun begitu. Terkadang senang menunggu meski aku tahu akan ada sisi salah dalam menunggu cinta yang tak pernah bisa aku tunggu. Ini mau hati, bukan pikiran.

Merasa diberi harapan palsu, kelak menyatakan diri menjadi korban kesakitan. Atau diam-diam menyakiti di alam bawah sadar. Siapapun bisa (merasa) bermuka dua karenanya. Jelas-jelas tersangka menyakiti, tapi berdalih selalu memposisikan menjadi yang paling tersakiti, situasi apapun itu. Sudah kodratnya jika setiap jiwa akan berusaha menyelamatkan diri dari segala hal negatif. Ya, dengan cara apapun. Yang penting dirinya aman dan bahagia menurut versinya. Lihatlah dari sisi yang berbeda. Mungkin bukan dia (sosok yang diharapkan) memberi harapan palsu, tapi kita yang terlalu berharap. Sebiasa perlakuan, namun menaruh hati berlebihan. Salah siapa? Ah, iya. Kau akan menyalahkan dia (lagi), bukan?

Tak jarang kita merasa tidak siap dengan segala konsekuensi yang ada. Pengalaman indah hingga pedih akan mencoba menggoyahkan hati. Mungkin aku belum siap untuk itu, batinku. Tapi, bukankah kesiapan dan ketepatan bukan di benak kita? Bukankah kita tak akan pernah tahu kapan kita siap dan kapan merasa tepat? Terkadang, saat ketidaksiapan dan ketidaktepatan menghantui, saat itulah Tuhan berkata inilah saat yang tepat. Diliputi rasa kekhawatiran tak berujung membuat goyahnya kepekaan. Daripada dipaksakan, memang lebih baik berhenti untuk mencari jawaban. Bukan, bukan maksud hati egois bergulat dengan diri sendiri. Akan lebih baik jika aku mencoba berdamai dengan hati sebelum berdamai dengan keadaan. Lagi-lagi, kita akan memilih untuk nyaman dalam kesakitan yang kita pilih sendiri.

Semoga mengerti
Ini mau hati

Tuesday, February 2, 2016

Apa Kabar, Rasa?

Cinta, kau (hampir) pergi
Sebelum dia mencintai aku
Mengapa cepatnya dia (hampir) berlalu
Meninggalkan jejak hampa dari semua

Bukan maksud menyeringai hati. Kadang rasa cinta datang tanpa kuingini. Serupa sejalan dengan sakit hati yang kutikam sendiri. Menyeret hampa sebagai kambing hitam segalanya. Membuatku sadar bahwa masa punya kuasa, pada akhirnya. Oh, rasa. Bagaimana kabarmu di akhir cerita? Bahagia? Atau justru terluka karenanya?

Kosong..
Seperti merasa tapi tak leluasa..
Seperti menjelma tapi tak punya nama..
Seperti fatamorgana tapi membuat terlena..

Ah.. Kau hanya jenuh pada keadaan. Serpihan yang terlahir beranjak mengikis perlahan. Bukan mauku. Tanpa sadar, titik mulai membuat barisan hingga melebar menjadi celah. Celah untuk menguak tabir penyesalan atau mungkin justru memupuk pelajaran. Ini hanya soal waktu dan pandangan. Percayalah.

Kunikmati kesalahan ini. Kubiarkan hati ini sesekali merasa sayang yang luput dari pandangan. Relakanlah sekali merindu masa lalu yang menjerat birumu. Meski kau tahu, kau sedang bertaruh dengan tujuan yang selalu menjadi harapan.

Kuat..
Tegarkan dalam kebisuan
Biarkan merasa dalam keheningan
Kelak keadaan akan berbicara lebih lantang
Dibandingkan bersuara tapi omong kosong

Monday, February 1, 2016

Kau Harus Memilih

Siapkah kau tuk jatuh cinta?
Jatuh dengan rasa bahagia
Tapi tak siap untuk jatuh dan terluka?

Siapapun yang jatuh cinta memiliki dua sisi besar. Antara bahagia, juga terluka. Siapa yang tahu dinamika 'musim pink' khas remaja yang satu ini. Di permulaan mengumbar tawa dan cerita bahagia, di perjalanan terseok-seok masalah pelik akibat terluka. Bukan.. Bukan maksud menakuti hingga kau tak ingin terjun dalam dunia yang satu ini. Kau hanya perlu sadar bahwa cinta memang bagian dari hidup. Kala kau mendaki dengan sepenuh hati, ketika kau menuruninya pun tak boleh setengah hati.

Entah aku, kau, dan dia pasti pernah merasakan jatuh cinta. Hanya saja berbeda pada bagaimana caramu mengungkapkan kalimat sesederhana 'Aku menyukainya'. Bagi kau si petualang cinta, akan mudah untuk mengucap dua kata non sakral itu. Ya, pribadimu percaya bahwa seisi dunia akan mendukung niat yang menggebu-gebu itu. Berbalik dengan dia, sosok bak putri malu. Boro-boro mengungkapkan, melihat dari radar jejak langkah kaki saja mungkin tak ada daya. Namun dalam hati siapa yang tahu. Dia yang mencintaimu diam-diam bisa jadi lebih tulus dari mereka yang berani mengungkap rasa.

Hai, kamu, yang tengah berlayar di dunia bahagia nan (masih) sementara itu, tidakkah sadar bahwa kau dan dia mengantongi dua 'mimpi buruk'? Mimpi yang menjadi peluang untuk siap bersanding di ambang batas kegalauan; Peluang untuk menyakiti dan tersakiti.

Ya, aku tahu tak ada yang menginginkan kedua hal itu. Tapi lihatlah. Hal sederhana saja bisa membuatmu berguling-guling ria karena merasa tersakiti. Contohnya saja, lenyapnya kabar dari sang pujaan. Terbiasa dengan ungkapan pembuka pagi saja bisa menjadi bumerang. Padahal segala kemungkinan dapat terjadi tanpa sepengetahuanmu. Hanya saja kau terlalu sensitif dan posesif dibuatnya. Ingatlah. Seisi dunia bukan hanya soal kau, kau, dan kau saja. Kau bukanlah poros bumi yang jika hilang akan membuat semua mati. Aku tahu. Jatuh cinta akan membuat kau berlaku seperti anak kecil yang merengek jika dicuekin.

Sama seperti perasaan menyakiti. Sesederhana kau membiarkan kabar itu tak berbalas. Mungkin kau tak menyadari bahwa di seberang sana ada yang meluangkan waktunya demi menunggu secarik kata darimu. Ya, aku tahu. Ini soal bagaimana kau menghargai detik yang bergulir atas pilihanmu sendiri.

Hal kecil bak duri akan siap menusukmu lebih dalam seperti tertusuk panah. Ya, jatuh cinta memang seperti itu. Sejalan dengan hal kecil seperti kata 'hai' akan siap menerbangkanmu lebih jauh seperti terbang ke awan. Cinta memang begitu. Jika kau siap bahagia, mau tak mau hau harus siap terluka. Boleh kau pilih salah satu untuk dirasa di muka. Namun tetap saja, rasa kedua akan tetap ada.

Jadi pilih mana?
Siap jatuh cinta dan terluka?
Atau diam saja menahan rasa?

Saturday, January 30, 2016

Foto Usang Bernama Kenangan

Bagaimana caramu menghargai sebuah kenangan? Membingkainya di meja samping tempat tidurmu? Membidik gambar dan meletakkannya di dompet kesayanganmu? Menuliskannya di akun pribadimu? Atau hanya mengukir namanya di lubuk hatimu? Bebas saja. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menyimpan satu titik penting dalam hidupnya yang berupa kenangan.

Banyak cara yang dilakukan mereka yang pernah bersinggungan dengan kenangan. Membencinya hanya karena ia meresap kenangan itu dengan pahit. Sebaliknya, mencintainya karena ia bahagia merasakan indahnya sebuah kenangan. Tergantung dari sudut mana ia memandang arti kenangan itu. Sepahit apapun kenangan, jika kau mampu membungkusnya dengan tulus, kau akan menganggapnya sebagai pelajaran terindah untuk masa depanmu. 

Foto ini masih tersimpan apik di sudut ruangan. Jika hanya sekedar masa lalu, tidak masalah jika ia masih berada di sana, kan? Tidak. Bukan berarti aku menaruh harapan, aku hanya menghargainya sebagai kenangan. Meski usang dan memudar, namanya kenangan akan tetap menjadi kenangan. Indah untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang.

Tak hanya berupa benda mati. Kenangan terkadang menjelma menjadi sebuah fatamorgana yang menyenangkan. Merajut mimpi yang dihembuskan kala malam menjelang, merekamnya dalam memori jangka panjang, hingga menyimpannya dalam-dalam saat tidur terlelap. Keesokan harinya berhadap dewi fortuna akan iba dan mengabulkan dalam kenyataan. Kita tahu sulit baginya untuk menyihir menjadi nyata, tapi saat itu pula kita terlalu nyaman dengan fatamorgana yang kita buat sendiri. Alhasil, menengguknya sendirian tanpa mempedulikan manis atau pahit setelahnya. Mungkin ini yang dinamakan kerelaan untuk berangan sendirian.

Aku hobi memeluk kenangan bagaimanapun bentuknya. Yang pahit biarkan kusebut ia dengan pelajaran, yang indah izinkan ku sebut ia dengan pengalaman. Bagaimana kau menjuluki dua sisi kenangan itu?

Monday, January 4, 2016

Tentang Alam dan Kebesaran Hati

Firasat adalah bagaimana cara alam mengajakmu bicara. Tidak ada yang kebetulan, sebenarnya. Sinergisitas alam yang teramat memahamimu yang kadang kau abaikan. Dengarlah bisiknya sejenak. Kelak kau kan mengerti, bahwa sebatang pohon pun merajuk untuk menjadi teman langkahmu.

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, katanya. Hati yang jatuh pun begitu. Ia takkan pernah membenci perkara yang membuatnya terpuruk. Karena ia tau, perkara itu yang tengah membangun kekuatan baru pada pondasinya.
   
Ranting yang rapuh tak pernah membenci takdir. Jiwa yang rapuh pun  begitu. Ia takkan pernah membenci sakit hati yang membuatnya sendu. Karena ia tau  sakit hati itu yang sedang membalut doa terbaik untuk menyembuhkan luka terdahulu.

Dahan yang patah tak pernah membenci tingkah alam yang jahil. Kepercayaan pun begitu. Kepercayaan yang rentan dipatahkan sesungguhnya sedang dalam proses membesarkan hati. Melapangkan jiwa, pun menetralkan rasa. Hingga di akhir waktu ia akan sadar bahwa kepercayaan hanya bisa dibentuk oleh mereka yang tak banyak berbicara, tapi memiliki hati yang lapang untuk berusaha tanpa memaksa