Saturday, January 30, 2016

Foto Usang Bernama Kenangan

Bagaimana caramu menghargai sebuah kenangan? Membingkainya di meja samping tempat tidurmu? Membidik gambar dan meletakkannya di dompet kesayanganmu? Menuliskannya di akun pribadimu? Atau hanya mengukir namanya di lubuk hatimu? Bebas saja. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menyimpan satu titik penting dalam hidupnya yang berupa kenangan.

Banyak cara yang dilakukan mereka yang pernah bersinggungan dengan kenangan. Membencinya hanya karena ia meresap kenangan itu dengan pahit. Sebaliknya, mencintainya karena ia bahagia merasakan indahnya sebuah kenangan. Tergantung dari sudut mana ia memandang arti kenangan itu. Sepahit apapun kenangan, jika kau mampu membungkusnya dengan tulus, kau akan menganggapnya sebagai pelajaran terindah untuk masa depanmu. 

Foto ini masih tersimpan apik di sudut ruangan. Jika hanya sekedar masa lalu, tidak masalah jika ia masih berada di sana, kan? Tidak. Bukan berarti aku menaruh harapan, aku hanya menghargainya sebagai kenangan. Meski usang dan memudar, namanya kenangan akan tetap menjadi kenangan. Indah untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang.

Tak hanya berupa benda mati. Kenangan terkadang menjelma menjadi sebuah fatamorgana yang menyenangkan. Merajut mimpi yang dihembuskan kala malam menjelang, merekamnya dalam memori jangka panjang, hingga menyimpannya dalam-dalam saat tidur terlelap. Keesokan harinya berhadap dewi fortuna akan iba dan mengabulkan dalam kenyataan. Kita tahu sulit baginya untuk menyihir menjadi nyata, tapi saat itu pula kita terlalu nyaman dengan fatamorgana yang kita buat sendiri. Alhasil, menengguknya sendirian tanpa mempedulikan manis atau pahit setelahnya. Mungkin ini yang dinamakan kerelaan untuk berangan sendirian.

Aku hobi memeluk kenangan bagaimanapun bentuknya. Yang pahit biarkan kusebut ia dengan pelajaran, yang indah izinkan ku sebut ia dengan pengalaman. Bagaimana kau menjuluki dua sisi kenangan itu?

Monday, January 4, 2016

Tentang Alam dan Kebesaran Hati

Firasat adalah bagaimana cara alam mengajakmu bicara. Tidak ada yang kebetulan, sebenarnya. Sinergisitas alam yang teramat memahamimu yang kadang kau abaikan. Dengarlah bisiknya sejenak. Kelak kau kan mengerti, bahwa sebatang pohon pun merajuk untuk menjadi teman langkahmu.

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, katanya. Hati yang jatuh pun begitu. Ia takkan pernah membenci perkara yang membuatnya terpuruk. Karena ia tau, perkara itu yang tengah membangun kekuatan baru pada pondasinya.
   
Ranting yang rapuh tak pernah membenci takdir. Jiwa yang rapuh pun  begitu. Ia takkan pernah membenci sakit hati yang membuatnya sendu. Karena ia tau  sakit hati itu yang sedang membalut doa terbaik untuk menyembuhkan luka terdahulu.

Dahan yang patah tak pernah membenci tingkah alam yang jahil. Kepercayaan pun begitu. Kepercayaan yang rentan dipatahkan sesungguhnya sedang dalam proses membesarkan hati. Melapangkan jiwa, pun menetralkan rasa. Hingga di akhir waktu ia akan sadar bahwa kepercayaan hanya bisa dibentuk oleh mereka yang tak banyak berbicara, tapi memiliki hati yang lapang untuk berusaha tanpa memaksa