Mencoba mengerti bahwa masih ada ketakutan dan keresahan. Masih belum mampu melakukan selayaknya yang harus dilakukan. Bukan karena apa. Hanya saja masih ada yang mengganjal dan menahan. Entah apa yang menjadi kendala. Aku saja tak mampu memprediksi dan mengenali.
Jika ingin bermain tebak rasa, mungkin kata bimbnag bertengger di sana. Harusnya kamu paham bahwa aku masih tidak bisa paham seperti sedia kala. Aku masih menutup (hampir) rapat. Entah menutup untuk segala bentuk atau memang terkhusus untuk dirimu saja. Jika aku boleh berkata, kita masih belum menemukan satu kata. Bagaimana bisa satu hati? Kau yang selalu ingin didengar, namun tak bisa menebak keadaan. Aku yang selalu ingin disesuaikan, namun tak bisa mencoba bertahan. Mungkin memang aku yang tak mengutarakan. Namun,kau tahu bahwa tak mudah bagiku untuk sampai hati, bukan?
Aku takut rasa yang menutup ini hanya untuk kamu. Aku yang pernah begitu lepas untuk membagi rasa, kini hanya sekedar berbagi kata pun aku ragu. Kau yang berhasil membuka jalan rasaku, mengapa kau juga yang menutup tanpa kumau? Tapi kumohon jangan kau hadirkan kambing hitam dalam peliknya masalah ini. Semua hanyalah keterbatasanku saja. Tak mampu menjadi yang kau mau. Aku mencoba dan aku tak mampu. Tak bisa lagi menyayangmu dengan sisi lainku. Aku tak sanggup menjadi biasa setelah kau ubah aku menjadi tak biasa.
Bukan soal cinta, rasa, atau bualan kata. Tapi juga tentang mereka yang tak pahami kisah kita. Maafkan, adanya mengerti perasaanku melebihi kamu yang dapat mencintaiku sekuat hatimu. Sebab hati tak bisa dipaksakan. Memang benar. Yang datang perlahan nyatanya lebih lama bertahan, meski (masih) dalam rasa yang (mungkin) berbeda. Aku percaya, kesamaan akan mencapai penantian.
Jadi...
Bagaimana rasaku, menurutmu?
Jakarta, entah kapan masanya (karena alpa)
Dengan beberapa perubahan
Friday, July 22, 2016
Wednesday, July 13, 2016
Jangan Sampai Kau Tahu
Hai, apa kabar masa yang pernah kita tinggalkan jauh dulu?
Yang pernah menelisik diam-diam dalam tatapan
Mengaktifkan kembali radar yang lama terpendam
Ah, ternyata pernah ada masa itu
Menurutku, jika posisimu digantikan orang lain, mungkin tidak semuanya mau untuk berpura-pura mencintaiku hanya untuk mengelabui berujung tawa. Betapa bisingnya otakku memikirkan bagaimana bisa kamu menerima ajakan gila itu hanya demi mengukir kisah unik dalam hidupku. Ah, tapi terima kasih banyak. Kamu adalah satu-satunya orang menyebalkan yang tetap saja membuatku tak bisa berhenti mengucap syukur bahwa (mungkin) pernah ada aku dalam hari-harimu. Dulu.
Orang berhak memasang-masangkan hati pada siapapun yang dikehendaki. Namun jika kau tanyakan aku, aku tak ingin memasangkan hatiku pada hatimu. Aku lelah memaksakan pasangan-pasangan yang kumau jika pada akhirnya semua terlepas dalam perjalanan. Aku tak ingin jika aku dipasangkan denganmu tapi aku kelak menjadi masa lalumu. Sungguh, bantu aku untuk menjauhkan itu.
Janji Tuhan membuatku ketagihan. Ketika aku tak memasangkan kunci pada sisi manapun, Ia memberiku celah terbaik yang tak pernah sedikitpun kubayangkan. Jika kau ingin tahu rasanya seperti apa, sungguh indah dari yang pernah kau kira. Meski semua tak terlepas dari rasa sakit yang menjerit kapan saja, rasa indah itu terbalut syukur tanpa henti. Rasakanlah, jika kau penasaran.
Aku senang berkaca pada dua sosok inspiratif yang-mungkin-kau-tahu-maksudku. Selalu ada tanpa harus meminta. Tanpa mengukir harap. Membiarkan semua berjalan apa adanya. Menghindari paksaan ego. Mengutamakan proses keikhlasan. Ah, semua berujung sangat manis dan membuatku iri. Maaf. Biar aku menjadi bunglon dan plagiat untuk urusan ini. Tenang, aku takkan menyakiti dan mendahului, seperti dia. Agar aku mengikuti jejaknya. Jangan sampai kau tahu (bahwa aku merindumu selalu).
Tunggu aku dalam ketidaktahuanmu
Biar tetap seperti itu
Agar aku tak pernah menjadi masa lalumu
Yang pernah menelisik diam-diam dalam tatapan
Mengaktifkan kembali radar yang lama terpendam
Ah, ternyata pernah ada masa itu
Menurutku, jika posisimu digantikan orang lain, mungkin tidak semuanya mau untuk berpura-pura mencintaiku hanya untuk mengelabui berujung tawa. Betapa bisingnya otakku memikirkan bagaimana bisa kamu menerima ajakan gila itu hanya demi mengukir kisah unik dalam hidupku. Ah, tapi terima kasih banyak. Kamu adalah satu-satunya orang menyebalkan yang tetap saja membuatku tak bisa berhenti mengucap syukur bahwa (mungkin) pernah ada aku dalam hari-harimu. Dulu.
Orang berhak memasang-masangkan hati pada siapapun yang dikehendaki. Namun jika kau tanyakan aku, aku tak ingin memasangkan hatiku pada hatimu. Aku lelah memaksakan pasangan-pasangan yang kumau jika pada akhirnya semua terlepas dalam perjalanan. Aku tak ingin jika aku dipasangkan denganmu tapi aku kelak menjadi masa lalumu. Sungguh, bantu aku untuk menjauhkan itu.
Janji Tuhan membuatku ketagihan. Ketika aku tak memasangkan kunci pada sisi manapun, Ia memberiku celah terbaik yang tak pernah sedikitpun kubayangkan. Jika kau ingin tahu rasanya seperti apa, sungguh indah dari yang pernah kau kira. Meski semua tak terlepas dari rasa sakit yang menjerit kapan saja, rasa indah itu terbalut syukur tanpa henti. Rasakanlah, jika kau penasaran.
Aku senang berkaca pada dua sosok inspiratif yang-mungkin-kau-tahu-maksudku. Selalu ada tanpa harus meminta. Tanpa mengukir harap. Membiarkan semua berjalan apa adanya. Menghindari paksaan ego. Mengutamakan proses keikhlasan. Ah, semua berujung sangat manis dan membuatku iri. Maaf. Biar aku menjadi bunglon dan plagiat untuk urusan ini. Tenang, aku takkan menyakiti dan mendahului, seperti dia. Agar aku mengikuti jejaknya. Jangan sampai kau tahu (bahwa aku merindumu selalu).
Tunggu aku dalam ketidaktahuanmu
Biar tetap seperti itu
Agar aku tak pernah menjadi masa lalumu
Subscribe to:
Posts (Atom)