Semoga Tuhan menuntun jalanku yang kadang bersinggungan dengan keinginan duniawi. Jika memang yang terbaik ada dalam diri yang diingini, kelak jarak tidak lagi menjadi masalah pelik yang dapat dikulik. Pun sebaliknya, jika bukan yang terbaik, kelak pelajaran dapat menjadi bekal berharga untuk menghadapi masa depan yang tentunya jauh lebih baik dari yang pernah ada. Aku percaya, malaikat pun tahu siapa yang menjadi juara dalam pertarungan sunyi ini. Berjuang dalam hati, menanam dalam diri. Bukan tanpa usaha. Biar Tuhan yang menilai segala usaha tanpa mengharap semua orang tahu. Ya, mereka tak tahu bagaimana keadaannya. Karena setiap orang memang berhak menilai tanpa tahu hiruk-pikuknya sebuah perjalanan.
Biar... Segala kepolosan merajut jalan. Tanpa pernah berharap lebih dari apa yang diinginkan. Akan ada kebahagiaan saat kau lupa pada dirimu. Tak perlu memaksakan. Biarkan berjalan beriringan, selanjutnya keinginan akan membersamai takdir Tuhan. Aku percaya, melakukan cinta yang tanpa diminta kelak akan menjatuhkan hati pada cerita tanpa skenario manusia.
Percayalah, aku percaya skenario Tuhan melebihi apapun. Yang tak pernah disangka, tanpa pernah tahu alurnya seperti apa, tanpa pernah memaksa cerita dengan intervensi keserakahan. Biarkan Tuhan yang berbicara dan mengetuk perlahan.
Aku percaya, bahagia itu sederhana. Sesederhana melepaskan dan merelakan segalanya demi menjadikannya nyata.
Biar Tuhan yang berkata. Biar Tuhan yang menuntun jalan.
Usaha tanpa memaksa. Berharap sejadi-jadinya tanpa terlelap
Friday, June 24, 2016
Sunday, June 19, 2016
Itu Saja
Aku rindu padamu.... Jarak yang pernah mengernyitkan dahiku karena tak tahan pada luasnya bumi
Aku rindu padamu.... Waktu yang pernah mendetakkan jantungku kala tak bisa bersinggungan
Aku rindu padamu.... Sebaris kalimat penggugah rasa yang tak henti membelalakkan mata
Yang jelas.. Ada rindu yang berhasil membuat sendu sekaligus ragu. Bagaimana akhirnya, tak ada yang tahu. Hanya bertumpu pada alamiah manusia yang selalu dikelilingi rasa butuh. Sekalinya datang, hanya bisa tersenyum haru. Bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Jika rindu dipaksa untuk menahan malu, selebihnya hanya akan memperumit keadaan. Biar cinta bertopang pada pemberi. Agar tak ada sakit hati yang menghujam lagi. Biar hati menyendiri sesuka hati. Agar tak ada luka batin pengganggu hari demi hari.
Biar hati menunjuk tuannya sesuka hati. Meski tak menjamin pasti, setidaknya ia bisa bebas mengucap nama. Entah dirasa atau bukan, yang jelas ia berhak untuk menjadikannya doa. Masalah terkabul atau tidak, biar menjadi hak pemilik kuasa saja. Tak ada salahnya hati menaruh harap pada batas sewajarnya, kan? Biar rasa harap itu berada pada kadarnya, agar tak ada kambing hitam yang disalahkan ketika tak satupun terwujud. Jangan sampai.
Semoga....
Segala kerinduan yang tetap kusekap dalam dekapan kelak menuai rasa bahagia. Entah bagaimana caranya, yang kuyakini dalam ketepatan pasti bermasa. Cepat atau lambat asalkan bahagia. Itu saja.
Aku rindu padamu.... Waktu yang pernah mendetakkan jantungku kala tak bisa bersinggungan
Aku rindu padamu.... Sebaris kalimat penggugah rasa yang tak henti membelalakkan mata
Yang jelas.. Ada rindu yang berhasil membuat sendu sekaligus ragu. Bagaimana akhirnya, tak ada yang tahu. Hanya bertumpu pada alamiah manusia yang selalu dikelilingi rasa butuh. Sekalinya datang, hanya bisa tersenyum haru. Bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Jika rindu dipaksa untuk menahan malu, selebihnya hanya akan memperumit keadaan. Biar cinta bertopang pada pemberi. Agar tak ada sakit hati yang menghujam lagi. Biar hati menyendiri sesuka hati. Agar tak ada luka batin pengganggu hari demi hari.
Biar hati menunjuk tuannya sesuka hati. Meski tak menjamin pasti, setidaknya ia bisa bebas mengucap nama. Entah dirasa atau bukan, yang jelas ia berhak untuk menjadikannya doa. Masalah terkabul atau tidak, biar menjadi hak pemilik kuasa saja. Tak ada salahnya hati menaruh harap pada batas sewajarnya, kan? Biar rasa harap itu berada pada kadarnya, agar tak ada kambing hitam yang disalahkan ketika tak satupun terwujud. Jangan sampai.
Semoga....
Segala kerinduan yang tetap kusekap dalam dekapan kelak menuai rasa bahagia. Entah bagaimana caranya, yang kuyakini dalam ketepatan pasti bermasa. Cepat atau lambat asalkan bahagia. Itu saja.
Hanya Butuh Penerimaan
Semakin aku membaca, semakin aku takut. Semakin aku menelusuri kata demi kata yang kutahu tersusun dengan rumit, aku semakin resah takut hilang arah. Ia berbisik untuk tinggal, namun secarik huruf berjejeran itu menolak ingin. Tuhan, aku takut. Bayang-bayang ini sangat menghantuiku. Entah. Orang bilang ini alamat rindu yang tak berkesudahan. Tapi mengapa.... Apa yang ingin-sekali-kusebut rumah seringkali goyah dan membuatnya patah?
Mungkin memang aku rindu. Ada lagu yang menarik ungkapan bisu. Hendak dikata apa jika berujung malu? Bukan. Bukan malu untuk mengatakan bahwa aku rindu. Hanya saja malu untuk segala muara dengan aliran yang kubuat sendiri. Apa yang kumau telah sesuai dengan rencanaku. Namun aku pula yang harus tersudut hampir kaku. Mana mungkin aku mengorbankan seluruh jalan yang tertata sedemikian rupa hanya untuk diruntuhkan begitu saja?
Ah, tidak. Terima kasih telah membuatku tenang. Terima kasih telah membuka lapang pikiran yang kubuatnya sesat. Bahwa hati hanya perlu dikondisikan, bukan dipaksakan. Boleh saja merasa terluka tanpa perlu berpura-pura bahagia. Terima saja. Bahwa diri harus penuh penerimaan, bukan keterpaksaan. Lepaskan saja bila kau tak bisa bertahan. Apa adanya semestinya akan berujung bahagia. Benar yang dikatakan banyak orang, tidak ada kesempurnaan dalam bentuk apapun di dunia ini. Kesempurnaan hanya akan melahirkan banyak tuntutan. Pada akhirnya akan berbuntut tekanan yang berkepanjangan. Sebaliknya, dengan penerimaan akan melahirkan segala kelapangan. Menerima bahwa setiap sisi baik selalu memiliki sisi buruk. Melengkapi sudut-sudut kosong pada masing-masing hati. Bukankah itu lebih berarti?
Tidak mudah, memang. Sama sepertiku, tak mudah menerima. Tak hanya menerima orang di luar sana yang-entah-siapapun-itu, menerima kondisi hati dan diri sendiri pun belum piawai. Biar kita saling belajar untuk menerima masing-masing sebelum saling menerima satu sama lain. Terlebih untuk saling menggenapi, perlu menambal segala keganjilan diri terlebih dahulu.
Selamat menempuh hari-hari di ruang tunggu. Bukankah tiada yang lebih indah saat usaha dan doa dipertemukan?
Mungkin memang aku rindu. Ada lagu yang menarik ungkapan bisu. Hendak dikata apa jika berujung malu? Bukan. Bukan malu untuk mengatakan bahwa aku rindu. Hanya saja malu untuk segala muara dengan aliran yang kubuat sendiri. Apa yang kumau telah sesuai dengan rencanaku. Namun aku pula yang harus tersudut hampir kaku. Mana mungkin aku mengorbankan seluruh jalan yang tertata sedemikian rupa hanya untuk diruntuhkan begitu saja?
Ah, tidak. Terima kasih telah membuatku tenang. Terima kasih telah membuka lapang pikiran yang kubuatnya sesat. Bahwa hati hanya perlu dikondisikan, bukan dipaksakan. Boleh saja merasa terluka tanpa perlu berpura-pura bahagia. Terima saja. Bahwa diri harus penuh penerimaan, bukan keterpaksaan. Lepaskan saja bila kau tak bisa bertahan. Apa adanya semestinya akan berujung bahagia. Benar yang dikatakan banyak orang, tidak ada kesempurnaan dalam bentuk apapun di dunia ini. Kesempurnaan hanya akan melahirkan banyak tuntutan. Pada akhirnya akan berbuntut tekanan yang berkepanjangan. Sebaliknya, dengan penerimaan akan melahirkan segala kelapangan. Menerima bahwa setiap sisi baik selalu memiliki sisi buruk. Melengkapi sudut-sudut kosong pada masing-masing hati. Bukankah itu lebih berarti?
Tidak mudah, memang. Sama sepertiku, tak mudah menerima. Tak hanya menerima orang di luar sana yang-entah-siapapun-itu, menerima kondisi hati dan diri sendiri pun belum piawai. Biar kita saling belajar untuk menerima masing-masing sebelum saling menerima satu sama lain. Terlebih untuk saling menggenapi, perlu menambal segala keganjilan diri terlebih dahulu.
Selamat menempuh hari-hari di ruang tunggu. Bukankah tiada yang lebih indah saat usaha dan doa dipertemukan?
Subscribe to:
Posts (Atom)