Hai, apa kabar masa yang pernah kita tinggalkan jauh dulu?
Yang pernah menelisik diam-diam dalam tatapan
Mengaktifkan kembali radar yang lama terpendam
Ah, ternyata pernah ada masa itu
Menurutku, jika posisimu digantikan orang lain, mungkin tidak semuanya mau untuk berpura-pura mencintaiku hanya untuk mengelabui berujung tawa. Betapa bisingnya otakku memikirkan bagaimana bisa kamu menerima ajakan gila itu hanya demi mengukir kisah unik dalam hidupku. Ah, tapi terima kasih banyak. Kamu adalah satu-satunya orang menyebalkan yang tetap saja membuatku tak bisa berhenti mengucap syukur bahwa (mungkin) pernah ada aku dalam hari-harimu. Dulu.
Orang berhak memasang-masangkan hati pada siapapun yang dikehendaki. Namun jika kau tanyakan aku, aku tak ingin memasangkan hatiku pada hatimu. Aku lelah memaksakan pasangan-pasangan yang kumau jika pada akhirnya semua terlepas dalam perjalanan. Aku tak ingin jika aku dipasangkan denganmu tapi aku kelak menjadi masa lalumu. Sungguh, bantu aku untuk menjauhkan itu.
Janji Tuhan membuatku ketagihan. Ketika aku tak memasangkan kunci pada sisi manapun, Ia memberiku celah terbaik yang tak pernah sedikitpun kubayangkan. Jika kau ingin tahu rasanya seperti apa, sungguh indah dari yang pernah kau kira. Meski semua tak terlepas dari rasa sakit yang menjerit kapan saja, rasa indah itu terbalut syukur tanpa henti. Rasakanlah, jika kau penasaran.
Aku senang berkaca pada dua sosok inspiratif yang-mungkin-kau-tahu-maksudku. Selalu ada tanpa harus meminta. Tanpa mengukir harap. Membiarkan semua berjalan apa adanya. Menghindari paksaan ego. Mengutamakan proses keikhlasan. Ah, semua berujung sangat manis dan membuatku iri. Maaf. Biar aku menjadi bunglon dan plagiat untuk urusan ini. Tenang, aku takkan menyakiti dan mendahului, seperti dia. Agar aku mengikuti jejaknya. Jangan sampai kau tahu (bahwa aku merindumu selalu).
Tunggu aku dalam ketidaktahuanmu
Biar tetap seperti itu
Agar aku tak pernah menjadi masa lalumu
No comments:
Post a Comment