Terburu waktu hanya bisa memaku laku. Terkejar masa hanya bisa menahan asa. Yang bukan pada waktunya hanya akan menyisakan luka. Entah untuk sementara ataupun selamanya, tetap saja bernama luka. Telah seberapa banyak luka yang kau pertahankan menganga di tempat yang sama? Di hati ? Bahkan di jiwa? Atau hanya sebatas raga? Bukankah luka itu tetap saja menyakitkan pada akhirnya?
Jangan paksa waktu menjadi budak jika tak ingin diperbudak olehnya. Tak usah menyita waktu dengan ego kasarmu itu. Perlakukan ia dengan baik agar waktu lebih memahami apa yang kita mau. Jangan sampai hanya karena sinisme waktu, ia menjauhkan segala anganmu.
Nanti saja..
Jalani perlahan namun pasti. Segala bentuk kepastian memang tidak melewati proses yang mudah. Namun jika kau bersahabat dengan alur yang dibuat, muara akan seindah telaga penawar dahaga.
Nanti saja..
Lepaskan dalam jangkauan. Biarkan citanya terbang menggapai harapan. Jika memang kau dalam genggaman, dia takkan hilang dari pandangan.
Nanti saja..
Peluk waktu dalam janji. Tak usah terlalu erat, cukup melekat tanpa harus terpaksa memikat. Andai kau dalam dekapan, tentu dia akan selalu menjadikanmu yang terdepan.
Nanti saja..
Waktu terlalu bersahaja untuk dijadikan alasan putus asa
Friday, December 4, 2015
Saturday, November 28, 2015
Tentang Jarak dan Dilema Rasa
Apa kabar, jarak?
Masih setia kah kau dalam batas pertahananmu?
Aku mencintai jarak ketika ia menjadi tolak ukur keteguhan yang kita ukir berdua. Aku memuja jarak ketika ia menjadi penyambung rindu yang kadang menggebu tanpa malu. Aku bahagia dengan jarak yang terbentang kini. Karenanya aku mampu menguji seberapa kuatkah aku dan kamu menjaga hati dan segala janji.
Tidakkah jarak menjadi menyenangkan ketika ia menjanjikan sambutan pelukan hangat di pelupuk mata? Menjamah permukaan yang lama kering ditinggal tuannya, berubah menjadi sejuk hanya dengan sapaan. Perlahan, jarak memupuk kerelaan dan keikhlasan dalam hati setiap insan. Entah kerelaan untuk bertahan, pun keikhlasan untuk melepaskan. Termasuk yang manakah kita? Semoga (masih) pilihan yang pertama, harapku.
Bukankah jarak menjadi awal rajutan doa-doa yang kau panjatkan tanpa henti? Adakah jarak yang menjadi jembatan bagi mereka yang tak henti bersabar dalam penantian? Ya, tentu saja. Jangan salahkan jarak. Salahkan dirimu yang lemah dalam kesetiaan. Oh, tak perlu membahas yang lain. Jika kita saling percaya, toh jarak akan luluh juga pada masanya.
Andai tak ada kata jarak
Andai kita tak terpisahkan oleh ruang dan waktu
Andai...
Andai...
Ah.. Aku benci kata-kata pesimis macam itu. Jika tak ada jarak, mungkin aku akan berubah menjadi sosok manja yang merengek-rengek sebuah pertemuan tiap detik. Jika jarak tak pernah ada, mungkin akan muncul musuh bernama 'kebosanan' yang siap menghancurkan segalanya. Tanpa jarak, mungkin kita akan menjadi sosok ketergantungan akan sebuah kehadiran.
Hanya karena jarak, aku menggantungkan harapku hanya pada Sang Pengukir Jarak. Dalam jutaan spasi yang berjejer di antara kita, aku tak henti menguntai doa. Jika memang benar kau yang menjadi tuannya, kelak aku takkan pernah menyesal dengan jatuh bangunnya kehidupan para pejuang batas ruang. Pun jika bukan kau, aku selalu bersyukur bahwa jarak telah membuatku kuat dalam sebuah ketidakpastian.
Jangan berhenti untuk percaya, hai pejuang senasib sepenanggungan
Kelak jarak mengajarkanmu banyak hal
Termasuk kerelaan dan keikhlasan
Tuesday, October 27, 2015
Dilema Hati Baja
Jadilah pribadi pemilik hati baja
Sekeras apapun kau ditempa
Kelak membuatmu kian kokoh berada
Tak peduli sepedih apapun benturan
Tak ada kata rapuh, justru semakin tangguh
Semua orang bilang menginginkan hati baja. Dipukul, dipalu, ditempa sedemikian rupa demi membuatnya menjadi raja. Sakit memang, terlalu banyak kepedihan yang terjadi. Itulah mengapa tak semua orang berhak dicap sebagai pemilik hati baja. Ya, hanya orang-orang tertentu yang lolos seleksi menyandang predikat hati kuat berlapis baja.
Namun.. Bolehkah sedikit bertanya? Apakah si hati baja selalu kuat? Apa ia tak pernah sedikitpun merasa rapuh hingga hampir terjatuh? Atau... Sekedar ingin melepas penuh namun enggan untuk tertunduk di depan seisi alam. Bukankah si hati baja pun punya jiwa merasa? Seolah-olah kekuatan yang diagungkan mereka harus benar-benar menyelimuti keresahan yang selama ini dirasakannya?
Izinkan aku mengutarakan satu hal. Setiap kekuatan pasti punya daya lemah. Risiko pelabelan di muka seisi alam. Kuat hanya demi mempertahankan status tak resmi yang disandang. Mengejar peluh dalam diam, kuat bertahan dalam sejalan.
Si hati baja pun punya rasa, punya masa..
Tengoklah sejenak..
Barangkali kau ingin merasakannya juga..
Sekeras apapun kau ditempa
Kelak membuatmu kian kokoh berada
Tak peduli sepedih apapun benturan
Tak ada kata rapuh, justru semakin tangguh
Semua orang bilang menginginkan hati baja. Dipukul, dipalu, ditempa sedemikian rupa demi membuatnya menjadi raja. Sakit memang, terlalu banyak kepedihan yang terjadi. Itulah mengapa tak semua orang berhak dicap sebagai pemilik hati baja. Ya, hanya orang-orang tertentu yang lolos seleksi menyandang predikat hati kuat berlapis baja.
Namun.. Bolehkah sedikit bertanya? Apakah si hati baja selalu kuat? Apa ia tak pernah sedikitpun merasa rapuh hingga hampir terjatuh? Atau... Sekedar ingin melepas penuh namun enggan untuk tertunduk di depan seisi alam. Bukankah si hati baja pun punya jiwa merasa? Seolah-olah kekuatan yang diagungkan mereka harus benar-benar menyelimuti keresahan yang selama ini dirasakannya?
Izinkan aku mengutarakan satu hal. Setiap kekuatan pasti punya daya lemah. Risiko pelabelan di muka seisi alam. Kuat hanya demi mempertahankan status tak resmi yang disandang. Mengejar peluh dalam diam, kuat bertahan dalam sejalan.
Si hati baja pun punya rasa, punya masa..
Tengoklah sejenak..
Barangkali kau ingin merasakannya juga..
Monday, October 26, 2015
Hati Tertumpuk
Sudahlah, jangan menaikturunkan hatiku semaumu. Kau tak tahu seberapa tinggi tumpukan puing di dasar hatiku yang kini hampir mencapai permukaan. Tak hanya kau, ada segelintir sosok bertuan di sana. Kau pun salah satunya. Dan kau, memaksaku untuk menekan tumpukan-tumpukan rongsokan yang masih kusimpan apik di sana. Bagaimana bisa?
Aku lelah berputar dengan roda pikiranku. Entah kemana, berpihak kemana. Bertaut pada satu tuan, namun termakan rayuan gombal pujaan. Ah, aku lemah. Terlalu cepat terangkat hingga mudah terpikat. Ujung-ujungnya tersendat. Stagnan. Semua. Tolong, aku hampir tercekat.
Hati tertumpuk, pikiran terpuruk. Mau jadi apa kamu dan sekujur tubuhmu?
Aku lelah berputar dengan roda pikiranku. Entah kemana, berpihak kemana. Bertaut pada satu tuan, namun termakan rayuan gombal pujaan. Ah, aku lemah. Terlalu cepat terangkat hingga mudah terpikat. Ujung-ujungnya tersendat. Stagnan. Semua. Tolong, aku hampir tercekat.
Hati tertumpuk, pikiran terpuruk. Mau jadi apa kamu dan sekujur tubuhmu?
Masa Lalu Hanya Angin Lalu
Maaf kala senja tidak lagi sejingga dulu
Ampuni jika hawa sejuk beralih hangat menyengat
Sayang.. alam berubah total
Aku tak lagi berpihak pada masa lalu
Sudah berapa lama aku berjalan, mencoba menghilangkan jejak yang terseok-seok akibat ulahmu. Kau tak akan mengerti sebuah arti kehilangan jika kau tak merasakan pedihnya. Sejak kau berpaling, kini kakiku berhasil merangkak lagi meski kaku. Hatiku terpaku, air muka membatu.
Berlalulah semaumu. Kejarlah angin bisu yang menarik perhatianmu. Aku tak lagi peduli akan hal itu. Karena kamu sama saja seperti angin lalu. Berlarian mengejar yang tak nampak, yang belum tentu memihak. Sebut saja dia harapan.
Sama. Aku pernah menyebutmu sebuah harapan. Tapi maaf, bukan ini harapan yang ku inginkan.
Selamat tinggal,
Penikmat Angin Lalu
Ampuni jika hawa sejuk beralih hangat menyengat
Sayang.. alam berubah total
Aku tak lagi berpihak pada masa lalu
Sudah berapa lama aku berjalan, mencoba menghilangkan jejak yang terseok-seok akibat ulahmu. Kau tak akan mengerti sebuah arti kehilangan jika kau tak merasakan pedihnya. Sejak kau berpaling, kini kakiku berhasil merangkak lagi meski kaku. Hatiku terpaku, air muka membatu.
Berlalulah semaumu. Kejarlah angin bisu yang menarik perhatianmu. Aku tak lagi peduli akan hal itu. Karena kamu sama saja seperti angin lalu. Berlarian mengejar yang tak nampak, yang belum tentu memihak. Sebut saja dia harapan.
Sama. Aku pernah menyebutmu sebuah harapan. Tapi maaf, bukan ini harapan yang ku inginkan.
Selamat tinggal,
Penikmat Angin Lalu
Saturday, October 24, 2015
Rindu itu....
Menurutmu, Rindu itu apa?
Sebuah perasaan ingin memiliki?
Sekelibat pikiran yang menerawang entah kemana?
Atau kehampaan yang terkadang menyita pikiran?
Ah, terlalu banyak definisi soal rindu.
Di antara yang tersebut, rindu itu ya seperti itu, menurutku. Kadang ingin memiliki, kadang pikiran yang berlalu lalang tanpa henti, kadang kehampaan yang memaksa untuk dipenuhi. Ya, mau bagaimana lagi. Sudah kodratnya seperti itu jika manusia pasti pernah merasakan nikmat dan pahitnya rindu. Nikmat merindu bagi mereka yang saling memadu, namun pahit merindu bagi mereka yang saling tak tahu.
Kalau boleh jujur, rindu itu menancap paku dalam tubuhku. Kadang menyirat lengkungan di bibirku, kadang seperti tersayat sembilu. Tak tahu menahu siapa dalang yang memancing rinduku itu. Ataukah sosok baru yang berusaha memasuki ruang barunya atau justru masa lalu yang telah lama membiru. Pilih mana?
Kutitip rinduku pada Sang Pemilik Rindu. Biarlah Ia yang menyampaikan pesan bisu pada tuannya kelak. Relakan ia terbang menuju persinggahan abadiku kelak. Entah pada masa lalu atau pada sosok baru di masa depan yang tak berani kuintip sekarang.
Biarlah menjadi kejutan yang membahagiakan. Karena aku percaya, hadiah dariNya tak akan pernah salah alamat.
Sebuah perasaan ingin memiliki?
Sekelibat pikiran yang menerawang entah kemana?
Atau kehampaan yang terkadang menyita pikiran?
Ah, terlalu banyak definisi soal rindu.
Di antara yang tersebut, rindu itu ya seperti itu, menurutku. Kadang ingin memiliki, kadang pikiran yang berlalu lalang tanpa henti, kadang kehampaan yang memaksa untuk dipenuhi. Ya, mau bagaimana lagi. Sudah kodratnya seperti itu jika manusia pasti pernah merasakan nikmat dan pahitnya rindu. Nikmat merindu bagi mereka yang saling memadu, namun pahit merindu bagi mereka yang saling tak tahu.
Kalau boleh jujur, rindu itu menancap paku dalam tubuhku. Kadang menyirat lengkungan di bibirku, kadang seperti tersayat sembilu. Tak tahu menahu siapa dalang yang memancing rinduku itu. Ataukah sosok baru yang berusaha memasuki ruang barunya atau justru masa lalu yang telah lama membiru. Pilih mana?
Kutitip rinduku pada Sang Pemilik Rindu. Biarlah Ia yang menyampaikan pesan bisu pada tuannya kelak. Relakan ia terbang menuju persinggahan abadiku kelak. Entah pada masa lalu atau pada sosok baru di masa depan yang tak berani kuintip sekarang.
Biarlah menjadi kejutan yang membahagiakan. Karena aku percaya, hadiah dariNya tak akan pernah salah alamat.
Jangan Renggut Kesempatan
Penyesalan itu takkan datang dua kali....
Hari ini belajar banyak tentang sebuah kesempatan. Kita tidak akan pernah tau bagaimana ke depannya jika kita tidak memulai. Ada banyak cara yang diajarkan oleh Tuhan saat kita mengerti arti sebuah kesempatan. Pernahkah mendengar bahwa salah satu hal yang seringkali diremehkan oleh manusia adalah sebuah waktu luang? Ya, disanalah bersandar suatu kesempatan yang menunggu untuk dijemput.
Ah, terkadang terlalu banyak alasan untuk menjemput kesempatan. Entah malas, berlaga tak ada waktu, memanjakan lelah, dan alasan blablabla lainnya. Tak banyak orang yang sadar dalam kesempatan manakah yang akan membawanya menuju kesuksesan. Meski tak jarang pula orang yang mengambil semua kesempatan yang ada namun tak membuahkan hasil, tapi setidaknya dia memiliki sejuta pembelajaran yang mungkin tak didapatkan oleh orang lain.
Nikmatilah kesempatan yang berdiri tepat di depanmu. Jangan incar kekayaan yang dipeluknya, namun incarlah pengalaman yang kuyakin pasti sangat berharga. Kau tak akan pernah tau jalan mana yang akan membawamu pada sebuah kebahagiaan yang hakiki. Entah karena keluangan yang berlangsung lama atau justru kesenggangan yang singkat.
Bawalah kepercayaan dalam setiap kesempatan. Tuhan tak akan pernah mengecewakan bagi mereka yang percaya....
Hari ini belajar banyak tentang sebuah kesempatan. Kita tidak akan pernah tau bagaimana ke depannya jika kita tidak memulai. Ada banyak cara yang diajarkan oleh Tuhan saat kita mengerti arti sebuah kesempatan. Pernahkah mendengar bahwa salah satu hal yang seringkali diremehkan oleh manusia adalah sebuah waktu luang? Ya, disanalah bersandar suatu kesempatan yang menunggu untuk dijemput.
Ah, terkadang terlalu banyak alasan untuk menjemput kesempatan. Entah malas, berlaga tak ada waktu, memanjakan lelah, dan alasan blablabla lainnya. Tak banyak orang yang sadar dalam kesempatan manakah yang akan membawanya menuju kesuksesan. Meski tak jarang pula orang yang mengambil semua kesempatan yang ada namun tak membuahkan hasil, tapi setidaknya dia memiliki sejuta pembelajaran yang mungkin tak didapatkan oleh orang lain.
Nikmatilah kesempatan yang berdiri tepat di depanmu. Jangan incar kekayaan yang dipeluknya, namun incarlah pengalaman yang kuyakin pasti sangat berharga. Kau tak akan pernah tau jalan mana yang akan membawamu pada sebuah kebahagiaan yang hakiki. Entah karena keluangan yang berlangsung lama atau justru kesenggangan yang singkat.
Bawalah kepercayaan dalam setiap kesempatan. Tuhan tak akan pernah mengecewakan bagi mereka yang percaya....
Thursday, October 22, 2015
Membentuk Hati yang Tangguh
Dia bilang hati itu rapuh
Katanya hati itu sensitif
Siapa bilang hati terlalu negatif
Atau hanya terlalu naif menanggapi
Mudahkanlah jalanmu dengan hati yang tangguh. Hati yang siap menanggung peluh. Hati yang rela menguntai resah menjadi kisah terindah. Yang dinilai dari muka tentu tak selamanya hati menjadi muara. Lihatlah sudut bola matanya, disanalah jendela termudah untuk mencapai hatinya. Jika tatapannya kosong, bukan berarti hatinya kosong. Justru ada setumpuk cerita yang bisa kau rasa.
Asah hatimu dengan sebilah kisah. Sepahit apapun kisahnya, percayalah dia akan membentuk formasi benteng kekuatan yang tak pernah kau kira. Belajarlah dari pengalaman. Kau tak akan pernah tahu dari mana asal ketangguhan yang mulai mengakar di ragamu.
Pancing hatimu untuk peka pada alam. Segala bentuk kebetulan adalah bagaimana cara alam berinteraksi dengan hatimu. Hanya saja apakah radar kepekaanmu menangkapnya dengan baik atau justru tak tahu sinyal-sinyalnya. Saat kita sepaham pada alam, tidak ada yang sulit untuk menjalani hidup. Tidak percaya? Buktikan saja.
Tangguhkan hatimu! Jangan biarkan pribadimu rusak hanya karena hati yang kau paksa jadi rapuh. Jika memang rapuh, biarkan ia selesaikan kemelutnya sendiri beberapa saat. Setelahnya, berjanjilah untuk meninggikan kadar tangguh pada hatimu.
Katanya hati itu sensitif
Siapa bilang hati terlalu negatif
Atau hanya terlalu naif menanggapi
Mudahkanlah jalanmu dengan hati yang tangguh. Hati yang siap menanggung peluh. Hati yang rela menguntai resah menjadi kisah terindah. Yang dinilai dari muka tentu tak selamanya hati menjadi muara. Lihatlah sudut bola matanya, disanalah jendela termudah untuk mencapai hatinya. Jika tatapannya kosong, bukan berarti hatinya kosong. Justru ada setumpuk cerita yang bisa kau rasa.
Asah hatimu dengan sebilah kisah. Sepahit apapun kisahnya, percayalah dia akan membentuk formasi benteng kekuatan yang tak pernah kau kira. Belajarlah dari pengalaman. Kau tak akan pernah tahu dari mana asal ketangguhan yang mulai mengakar di ragamu.
Pancing hatimu untuk peka pada alam. Segala bentuk kebetulan adalah bagaimana cara alam berinteraksi dengan hatimu. Hanya saja apakah radar kepekaanmu menangkapnya dengan baik atau justru tak tahu sinyal-sinyalnya. Saat kita sepaham pada alam, tidak ada yang sulit untuk menjalani hidup. Tidak percaya? Buktikan saja.
Tangguhkan hatimu! Jangan biarkan pribadimu rusak hanya karena hati yang kau paksa jadi rapuh. Jika memang rapuh, biarkan ia selesaikan kemelutnya sendiri beberapa saat. Setelahnya, berjanjilah untuk meninggikan kadar tangguh pada hatimu.
Mengurai Kesalahpahaman
Seperti roda berputar, ada saatnya manusia berada dalam titik terendah. Bukan karena pelemahan pencitraan yang selama ini diagungkan, namun sudah waktunya ego menyingkir. Benang yang dirajut tanpa unsur kepercayaan tentu saja tak akan sesuai dengan yang dihendaki. Jika hati boleh berbicara sejenak, ia akan berteriak lantang. Akhirnya topeng ini kadaluarsa! Berhentilah membungkamku, kira-kira seperti itulah nantinya.
Kita pernah saling percaya untuk satu tujuan yang sama. Aku menjadi tangan, kau menjadi kaki. Aku menjagamu dengan sentuhan, kau menjagaku dengan kekuatan. Berjalan beriringan tanpa berniat melepaskan. Kita pernah berjanji mengikuti kehendak sang pemilik raga. Kemana pun Ia akan menuntun, kita akan mengekor di belakang. Kau masih ingat, bukan?
Kala kata terucap tanpa melewati proses pemilahan, saat itu pula aku (seperti) memercikkan api perlawanan. Ah, bukan maksud melawan, hanya saja mencoba memperbaiki sesuatu yang kuanggap salah. Setiap orang pasti punya cara berpikir yang berbeda. Kita terbentuk dengan cara yang sama, namun perjalanannya tak akan pernah sama. Kau pun mengasap, hampir berkobar. Ada yang salah padamu, padaku, pada kita.
Duduklah sejenak bersamaku, kawan. Ada yang kusut dalam rajutan pemahaman di kepala. Kita hanya tanpa sengaja bercabang. Mungkin rasa percaya memudar kala hujan mengalir di pelupuk mataku. Atau kah matahari terlalu menyengat hatimu hingga membakar api cemburu. Karena hujan dan matahari tak pernah bisa bersatu. Kita hanya butuh pelangi untuk mengakhiri semua.
Uraikanlah secara perlahan. Tidak ada yang salah pada pertentangan hujan dan matahari. Benang yang kusut akan terurai jika kau mampu bersabar. Roda kehidupan yang terus bergulir pun ada saatnya mencapai puncak jika kau berdiri tegak. Kita hanya salah memahami bahwa hidup bukan selalu tentang ingin dipercaya. Hidup adalah bagaimana keteguhan berada dalam satu jalur yang kau percaya saat dikelilingi oleh persimpangan.
Kau hanya butuh percaya
Percaya....
Kita pernah saling percaya untuk satu tujuan yang sama. Aku menjadi tangan, kau menjadi kaki. Aku menjagamu dengan sentuhan, kau menjagaku dengan kekuatan. Berjalan beriringan tanpa berniat melepaskan. Kita pernah berjanji mengikuti kehendak sang pemilik raga. Kemana pun Ia akan menuntun, kita akan mengekor di belakang. Kau masih ingat, bukan?
Kala kata terucap tanpa melewati proses pemilahan, saat itu pula aku (seperti) memercikkan api perlawanan. Ah, bukan maksud melawan, hanya saja mencoba memperbaiki sesuatu yang kuanggap salah. Setiap orang pasti punya cara berpikir yang berbeda. Kita terbentuk dengan cara yang sama, namun perjalanannya tak akan pernah sama. Kau pun mengasap, hampir berkobar. Ada yang salah padamu, padaku, pada kita.
Duduklah sejenak bersamaku, kawan. Ada yang kusut dalam rajutan pemahaman di kepala. Kita hanya tanpa sengaja bercabang. Mungkin rasa percaya memudar kala hujan mengalir di pelupuk mataku. Atau kah matahari terlalu menyengat hatimu hingga membakar api cemburu. Karena hujan dan matahari tak pernah bisa bersatu. Kita hanya butuh pelangi untuk mengakhiri semua.
Uraikanlah secara perlahan. Tidak ada yang salah pada pertentangan hujan dan matahari. Benang yang kusut akan terurai jika kau mampu bersabar. Roda kehidupan yang terus bergulir pun ada saatnya mencapai puncak jika kau berdiri tegak. Kita hanya salah memahami bahwa hidup bukan selalu tentang ingin dipercaya. Hidup adalah bagaimana keteguhan berada dalam satu jalur yang kau percaya saat dikelilingi oleh persimpangan.
Kau hanya butuh percaya
Percaya....
Subscribe to:
Posts (Atom)