Cinta, kau (hampir) pergi
Sebelum dia mencintai aku
Mengapa cepatnya dia (hampir) berlalu
Meninggalkan jejak hampa dari semua
Bukan maksud menyeringai hati. Kadang rasa cinta datang tanpa kuingini. Serupa sejalan dengan sakit hati yang kutikam sendiri. Menyeret hampa sebagai kambing hitam segalanya. Membuatku sadar bahwa masa punya kuasa, pada akhirnya. Oh, rasa. Bagaimana kabarmu di akhir cerita? Bahagia? Atau justru terluka karenanya?
Kosong..
Seperti merasa tapi tak leluasa..
Seperti menjelma tapi tak punya nama..
Seperti fatamorgana tapi membuat terlena..
Ah.. Kau hanya jenuh pada keadaan. Serpihan yang terlahir beranjak mengikis perlahan. Bukan mauku. Tanpa sadar, titik mulai membuat barisan hingga melebar menjadi celah. Celah untuk menguak tabir penyesalan atau mungkin justru memupuk pelajaran. Ini hanya soal waktu dan pandangan. Percayalah.
Kunikmati kesalahan ini. Kubiarkan hati ini sesekali merasa sayang yang luput dari pandangan. Relakanlah sekali merindu masa lalu yang menjerat birumu. Meski kau tahu, kau sedang bertaruh dengan tujuan yang selalu menjadi harapan.
Kuat..
Tegarkan dalam kebisuan
Biarkan merasa dalam keheningan
Kelak keadaan akan berbicara lebih lantang
Dibandingkan bersuara tapi omong kosong
Tuesday, February 2, 2016
Monday, February 1, 2016
Kau Harus Memilih
Siapkah kau tuk jatuh cinta?
Jatuh dengan rasa bahagia
Tapi tak siap untuk jatuh dan terluka?
Siapapun yang jatuh cinta memiliki dua sisi besar. Antara bahagia, juga terluka. Siapa yang tahu dinamika 'musim pink' khas remaja yang satu ini. Di permulaan mengumbar tawa dan cerita bahagia, di perjalanan terseok-seok masalah pelik akibat terluka. Bukan.. Bukan maksud menakuti hingga kau tak ingin terjun dalam dunia yang satu ini. Kau hanya perlu sadar bahwa cinta memang bagian dari hidup. Kala kau mendaki dengan sepenuh hati, ketika kau menuruninya pun tak boleh setengah hati.
Entah aku, kau, dan dia pasti pernah merasakan jatuh cinta. Hanya saja berbeda pada bagaimana caramu mengungkapkan kalimat sesederhana 'Aku menyukainya'. Bagi kau si petualang cinta, akan mudah untuk mengucap dua kata non sakral itu. Ya, pribadimu percaya bahwa seisi dunia akan mendukung niat yang menggebu-gebu itu. Berbalik dengan dia, sosok bak putri malu. Boro-boro mengungkapkan, melihat dari radar jejak langkah kaki saja mungkin tak ada daya. Namun dalam hati siapa yang tahu. Dia yang mencintaimu diam-diam bisa jadi lebih tulus dari mereka yang berani mengungkap rasa.
Hai, kamu, yang tengah berlayar di dunia bahagia nan (masih) sementara itu, tidakkah sadar bahwa kau dan dia mengantongi dua 'mimpi buruk'? Mimpi yang menjadi peluang untuk siap bersanding di ambang batas kegalauan; Peluang untuk menyakiti dan tersakiti.
Ya, aku tahu tak ada yang menginginkan kedua hal itu. Tapi lihatlah. Hal sederhana saja bisa membuatmu berguling-guling ria karena merasa tersakiti. Contohnya saja, lenyapnya kabar dari sang pujaan. Terbiasa dengan ungkapan pembuka pagi saja bisa menjadi bumerang. Padahal segala kemungkinan dapat terjadi tanpa sepengetahuanmu. Hanya saja kau terlalu sensitif dan posesif dibuatnya. Ingatlah. Seisi dunia bukan hanya soal kau, kau, dan kau saja. Kau bukanlah poros bumi yang jika hilang akan membuat semua mati. Aku tahu. Jatuh cinta akan membuat kau berlaku seperti anak kecil yang merengek jika dicuekin.
Sama seperti perasaan menyakiti. Sesederhana kau membiarkan kabar itu tak berbalas. Mungkin kau tak menyadari bahwa di seberang sana ada yang meluangkan waktunya demi menunggu secarik kata darimu. Ya, aku tahu. Ini soal bagaimana kau menghargai detik yang bergulir atas pilihanmu sendiri.
Hal kecil bak duri akan siap menusukmu lebih dalam seperti tertusuk panah. Ya, jatuh cinta memang seperti itu. Sejalan dengan hal kecil seperti kata 'hai' akan siap menerbangkanmu lebih jauh seperti terbang ke awan. Cinta memang begitu. Jika kau siap bahagia, mau tak mau hau harus siap terluka. Boleh kau pilih salah satu untuk dirasa di muka. Namun tetap saja, rasa kedua akan tetap ada.
Jadi pilih mana?
Siap jatuh cinta dan terluka?
Atau diam saja menahan rasa?
Jatuh dengan rasa bahagia
Tapi tak siap untuk jatuh dan terluka?
Siapapun yang jatuh cinta memiliki dua sisi besar. Antara bahagia, juga terluka. Siapa yang tahu dinamika 'musim pink' khas remaja yang satu ini. Di permulaan mengumbar tawa dan cerita bahagia, di perjalanan terseok-seok masalah pelik akibat terluka. Bukan.. Bukan maksud menakuti hingga kau tak ingin terjun dalam dunia yang satu ini. Kau hanya perlu sadar bahwa cinta memang bagian dari hidup. Kala kau mendaki dengan sepenuh hati, ketika kau menuruninya pun tak boleh setengah hati.
Entah aku, kau, dan dia pasti pernah merasakan jatuh cinta. Hanya saja berbeda pada bagaimana caramu mengungkapkan kalimat sesederhana 'Aku menyukainya'. Bagi kau si petualang cinta, akan mudah untuk mengucap dua kata non sakral itu. Ya, pribadimu percaya bahwa seisi dunia akan mendukung niat yang menggebu-gebu itu. Berbalik dengan dia, sosok bak putri malu. Boro-boro mengungkapkan, melihat dari radar jejak langkah kaki saja mungkin tak ada daya. Namun dalam hati siapa yang tahu. Dia yang mencintaimu diam-diam bisa jadi lebih tulus dari mereka yang berani mengungkap rasa.
Hai, kamu, yang tengah berlayar di dunia bahagia nan (masih) sementara itu, tidakkah sadar bahwa kau dan dia mengantongi dua 'mimpi buruk'? Mimpi yang menjadi peluang untuk siap bersanding di ambang batas kegalauan; Peluang untuk menyakiti dan tersakiti.
Ya, aku tahu tak ada yang menginginkan kedua hal itu. Tapi lihatlah. Hal sederhana saja bisa membuatmu berguling-guling ria karena merasa tersakiti. Contohnya saja, lenyapnya kabar dari sang pujaan. Terbiasa dengan ungkapan pembuka pagi saja bisa menjadi bumerang. Padahal segala kemungkinan dapat terjadi tanpa sepengetahuanmu. Hanya saja kau terlalu sensitif dan posesif dibuatnya. Ingatlah. Seisi dunia bukan hanya soal kau, kau, dan kau saja. Kau bukanlah poros bumi yang jika hilang akan membuat semua mati. Aku tahu. Jatuh cinta akan membuat kau berlaku seperti anak kecil yang merengek jika dicuekin.
Sama seperti perasaan menyakiti. Sesederhana kau membiarkan kabar itu tak berbalas. Mungkin kau tak menyadari bahwa di seberang sana ada yang meluangkan waktunya demi menunggu secarik kata darimu. Ya, aku tahu. Ini soal bagaimana kau menghargai detik yang bergulir atas pilihanmu sendiri.
Hal kecil bak duri akan siap menusukmu lebih dalam seperti tertusuk panah. Ya, jatuh cinta memang seperti itu. Sejalan dengan hal kecil seperti kata 'hai' akan siap menerbangkanmu lebih jauh seperti terbang ke awan. Cinta memang begitu. Jika kau siap bahagia, mau tak mau hau harus siap terluka. Boleh kau pilih salah satu untuk dirasa di muka. Namun tetap saja, rasa kedua akan tetap ada.
Jadi pilih mana?
Siap jatuh cinta dan terluka?
Atau diam saja menahan rasa?
Subscribe to:
Posts (Atom)