Tuesday, October 27, 2015

Dilema Hati Baja

Jadilah pribadi pemilik hati baja
Sekeras apapun kau ditempa
Kelak membuatmu kian kokoh berada
Tak peduli sepedih apapun benturan
Tak ada kata rapuh, justru semakin tangguh

Semua orang bilang menginginkan hati baja. Dipukul, dipalu, ditempa sedemikian rupa demi membuatnya menjadi raja. Sakit memang, terlalu banyak kepedihan yang terjadi. Itulah mengapa tak semua orang berhak dicap sebagai pemilik hati baja. Ya, hanya orang-orang tertentu yang lolos seleksi menyandang predikat hati kuat berlapis baja.

Namun.. Bolehkah sedikit bertanya? Apakah si hati baja selalu kuat? Apa ia tak pernah sedikitpun merasa rapuh hingga hampir terjatuh? Atau... Sekedar ingin melepas penuh namun enggan untuk tertunduk di depan seisi alam. Bukankah si hati baja pun punya jiwa merasa? Seolah-olah kekuatan yang diagungkan mereka harus benar-benar menyelimuti keresahan yang selama ini dirasakannya?

Izinkan aku mengutarakan satu hal. Setiap kekuatan pasti punya daya lemah. Risiko pelabelan di muka seisi alam. Kuat hanya demi mempertahankan status tak resmi yang disandang. Mengejar peluh dalam diam, kuat bertahan dalam sejalan.

Si hati baja pun punya rasa, punya masa..
Tengoklah sejenak..
Barangkali kau ingin merasakannya juga..

Monday, October 26, 2015

Hati Tertumpuk

Sudahlah, jangan menaikturunkan hatiku semaumu. Kau tak tahu seberapa tinggi tumpukan puing di dasar hatiku yang kini hampir mencapai permukaan. Tak hanya kau, ada segelintir sosok bertuan di sana. Kau pun salah satunya. Dan kau, memaksaku untuk menekan tumpukan-tumpukan rongsokan yang masih kusimpan apik di sana. Bagaimana bisa?

Aku lelah berputar dengan roda pikiranku. Entah kemana, berpihak kemana. Bertaut pada satu tuan, namun termakan rayuan gombal pujaan. Ah, aku lemah. Terlalu cepat terangkat hingga mudah terpikat. Ujung-ujungnya tersendat. Stagnan. Semua. Tolong, aku hampir tercekat.

Hati tertumpuk, pikiran terpuruk. Mau jadi apa kamu dan sekujur tubuhmu?

Masa Lalu Hanya Angin Lalu

Maaf kala senja tidak lagi sejingga dulu
Ampuni jika hawa sejuk beralih hangat menyengat
Sayang.. alam berubah total
Aku tak lagi berpihak pada masa lalu

Sudah berapa lama aku berjalan, mencoba menghilangkan jejak yang terseok-seok akibat ulahmu. Kau tak akan mengerti sebuah arti kehilangan jika kau tak merasakan pedihnya. Sejak kau berpaling, kini kakiku berhasil merangkak lagi meski kaku. Hatiku terpaku, air muka membatu.

Berlalulah semaumu. Kejarlah angin bisu yang menarik perhatianmu. Aku tak lagi peduli akan hal itu. Karena kamu sama saja seperti angin lalu. Berlarian mengejar yang tak nampak, yang belum tentu memihak. Sebut saja dia harapan.

Sama. Aku pernah menyebutmu sebuah harapan. Tapi maaf, bukan ini harapan yang ku inginkan.


Selamat tinggal,


Penikmat Angin Lalu

Saturday, October 24, 2015

Rindu itu....

Menurutmu, Rindu itu apa?
Sebuah perasaan ingin memiliki?
Sekelibat pikiran yang menerawang entah kemana?
Atau kehampaan yang terkadang menyita pikiran?

Ah, terlalu banyak definisi soal rindu.
Di antara yang tersebut, rindu itu ya seperti itu, menurutku. Kadang ingin memiliki, kadang pikiran yang berlalu lalang tanpa henti, kadang kehampaan yang memaksa untuk dipenuhi. Ya, mau bagaimana lagi. Sudah kodratnya seperti itu jika manusia pasti pernah merasakan nikmat dan pahitnya rindu. Nikmat merindu bagi mereka yang saling memadu, namun pahit merindu bagi mereka yang saling tak tahu.

Kalau boleh jujur, rindu itu menancap paku dalam tubuhku. Kadang menyirat lengkungan di bibirku, kadang seperti tersayat sembilu. Tak tahu menahu siapa dalang yang memancing rinduku itu. Ataukah sosok baru yang berusaha memasuki ruang barunya atau justru masa lalu yang telah lama membiru. Pilih mana?

Kutitip rinduku pada Sang Pemilik Rindu. Biarlah Ia yang menyampaikan pesan bisu pada tuannya kelak. Relakan ia terbang menuju persinggahan abadiku kelak. Entah pada masa lalu atau pada sosok baru di masa depan yang tak berani kuintip sekarang.

Biarlah menjadi kejutan yang membahagiakan. Karena aku percaya, hadiah dariNya tak akan pernah salah alamat.

Jangan Renggut Kesempatan

Penyesalan itu takkan datang dua kali....

Hari ini belajar banyak tentang sebuah kesempatan. Kita tidak akan pernah tau bagaimana ke depannya jika kita tidak memulai. Ada banyak cara yang diajarkan oleh Tuhan saat kita mengerti arti sebuah kesempatan. Pernahkah mendengar bahwa salah satu hal yang seringkali diremehkan oleh manusia adalah sebuah waktu luang? Ya, disanalah bersandar suatu kesempatan yang menunggu untuk dijemput.

Ah, terkadang terlalu banyak alasan untuk menjemput kesempatan. Entah malas, berlaga tak ada waktu, memanjakan lelah, dan alasan blablabla lainnya. Tak banyak orang yang sadar dalam kesempatan manakah yang akan membawanya menuju kesuksesan. Meski tak jarang pula orang yang mengambil semua kesempatan yang ada namun tak membuahkan hasil, tapi setidaknya dia memiliki sejuta pembelajaran yang mungkin tak didapatkan oleh orang lain.

Nikmatilah kesempatan yang berdiri tepat di depanmu. Jangan incar kekayaan yang dipeluknya, namun incarlah pengalaman yang kuyakin pasti sangat berharga. Kau tak akan pernah tau jalan mana yang akan membawamu pada sebuah kebahagiaan yang hakiki. Entah karena keluangan yang berlangsung lama atau justru kesenggangan yang singkat.

Bawalah kepercayaan dalam setiap kesempatan. Tuhan tak akan pernah mengecewakan bagi mereka yang percaya....

Thursday, October 22, 2015

Membentuk Hati yang Tangguh

Dia bilang hati itu rapuh
Katanya hati itu sensitif
Siapa bilang hati terlalu negatif
Atau hanya terlalu naif menanggapi

Mudahkanlah jalanmu dengan hati yang tangguh. Hati yang siap menanggung peluh. Hati yang rela menguntai resah menjadi kisah terindah. Yang dinilai dari muka tentu tak selamanya hati menjadi muara. Lihatlah sudut bola matanya, disanalah jendela termudah untuk mencapai hatinya. Jika tatapannya kosong, bukan berarti hatinya kosong. Justru ada setumpuk cerita yang bisa kau rasa.

Asah hatimu dengan sebilah kisah. Sepahit apapun kisahnya, percayalah dia akan membentuk formasi benteng kekuatan yang tak pernah kau kira. Belajarlah dari pengalaman. Kau tak akan pernah tahu dari mana asal ketangguhan yang mulai mengakar di ragamu.

Pancing hatimu untuk peka pada alam. Segala bentuk kebetulan adalah bagaimana cara alam berinteraksi dengan hatimu. Hanya saja apakah radar kepekaanmu menangkapnya dengan baik atau justru tak tahu sinyal-sinyalnya. Saat kita sepaham pada alam, tidak ada yang sulit untuk menjalani hidup. Tidak percaya? Buktikan saja.

Tangguhkan hatimu! Jangan biarkan pribadimu rusak hanya karena hati yang kau paksa jadi rapuh. Jika memang rapuh, biarkan ia selesaikan kemelutnya sendiri beberapa saat. Setelahnya, berjanjilah untuk meninggikan kadar tangguh pada hatimu.

Mengurai Kesalahpahaman

Seperti roda berputar, ada saatnya manusia berada dalam titik terendah. Bukan karena pelemahan pencitraan yang selama ini diagungkan, namun sudah waktunya ego menyingkir. Benang yang dirajut tanpa unsur kepercayaan tentu saja tak akan sesuai dengan yang dihendaki. Jika hati boleh berbicara sejenak, ia akan berteriak lantang. Akhirnya topeng ini kadaluarsa! Berhentilah membungkamku, kira-kira seperti itulah nantinya.

Kita pernah saling percaya untuk satu tujuan yang sama. Aku menjadi tangan, kau menjadi kaki. Aku menjagamu dengan sentuhan, kau menjagaku dengan kekuatan. Berjalan beriringan tanpa berniat melepaskan. Kita pernah berjanji mengikuti kehendak sang pemilik raga. Kemana pun Ia akan menuntun, kita akan mengekor di belakang. Kau masih ingat, bukan?

Kala kata terucap tanpa melewati proses pemilahan, saat itu pula aku (seperti) memercikkan api perlawanan. Ah, bukan maksud melawan, hanya saja mencoba memperbaiki sesuatu yang kuanggap salah. Setiap orang pasti punya cara berpikir yang berbeda. Kita terbentuk dengan cara yang sama, namun perjalanannya tak akan pernah sama. Kau pun mengasap, hampir berkobar. Ada yang salah padamu, padaku, pada kita.

Duduklah sejenak bersamaku, kawan. Ada yang kusut dalam rajutan pemahaman di kepala. Kita hanya tanpa sengaja bercabang. Mungkin rasa percaya memudar kala hujan mengalir di pelupuk mataku. Atau kah matahari terlalu menyengat hatimu hingga membakar api cemburu. Karena hujan dan matahari tak pernah bisa bersatu. Kita hanya butuh pelangi untuk mengakhiri semua.

Uraikanlah secara perlahan. Tidak ada yang salah pada pertentangan hujan dan matahari. Benang yang kusut akan terurai jika kau mampu bersabar. Roda kehidupan yang terus bergulir pun ada saatnya mencapai puncak jika kau berdiri tegak. Kita hanya salah memahami bahwa hidup bukan selalu tentang ingin dipercaya. Hidup adalah bagaimana keteguhan berada dalam satu jalur yang kau percaya saat dikelilingi oleh persimpangan.

Kau hanya butuh percaya
Percaya....