Mana mau sama penjahat?
Tidakkah kau jera disakiti dan ditikam sedemikian rupa?
Untuk apa bertahan dengan sosok yang gemar menyakiti? Sebagian dari mereka memilih bertahan hanya karena enggan berpindah ke lain hati. Mengukir kisah baru, menanam jejak bersama, dan merantai tapak kehidupan berdampingan. Sebagiannya lagi beralih meinggalkan hanya karena enggan membersamai orang jahat dan hendak memperbaiki lubang di hati. Entah. Setiap sisi punya alasan masing-masing. Bertahan dan rela tersakiti, atau memilih berhenti dan beranjak pergi. Bebas. Jiwamu memiliki hak untuk hidup. Kini tergantung kau, bagaimana caranya kau memperlakukan hati dan hidupmu demi kebahagiaanmu.
Tak sedikit mereka yang rela tersakiti hanya karena ingin bertahan dengan egonya masing-masing. Ah, dia akan berubah kelak, dia 'kan beralih, jangan mundur, katanya begitu. Ah, menurutku itu hanya upaya menghibur diri. Memang, tak ada yang tahu bagaimana masa depan yang hendak kau sapa. Yang jelas, tentu kita akan berusaha melakukan yang terbaik untuk menciptakan masa depan kita sendiri. Mungkin dengan bertahan, kau akan menunggu hal-hal yang tak jelas bisa kau tunggu, namun bisa jadi ini hal yang menyenangkan, menurutmu. Meski Tuhan punya cara yang hebat dalam menunjukkan, yang penting kau berusaha menyenangkan hatimu dengan memelihara ego-yang-kadang-terkesan-bodoh-soal-menunggu ketidakpastian. Aku pun begitu. Terkadang senang menunggu meski aku tahu akan ada sisi salah dalam menunggu cinta yang tak pernah bisa aku tunggu. Ini mau hati, bukan pikiran.
Merasa diberi harapan palsu, kelak menyatakan diri menjadi korban kesakitan. Atau diam-diam menyakiti di alam bawah sadar. Siapapun bisa (merasa) bermuka dua karenanya. Jelas-jelas tersangka menyakiti, tapi berdalih selalu memposisikan menjadi yang paling tersakiti, situasi apapun itu. Sudah kodratnya jika setiap jiwa akan berusaha menyelamatkan diri dari segala hal negatif. Ya, dengan cara apapun. Yang penting dirinya aman dan bahagia menurut versinya. Lihatlah dari sisi yang berbeda. Mungkin bukan dia (sosok yang diharapkan) memberi harapan palsu, tapi kita yang terlalu berharap. Sebiasa perlakuan, namun menaruh hati berlebihan. Salah siapa? Ah, iya. Kau akan menyalahkan dia (lagi), bukan?
Tak jarang kita merasa tidak siap dengan segala konsekuensi yang ada. Pengalaman indah hingga pedih akan mencoba menggoyahkan hati. Mungkin aku belum siap untuk itu, batinku. Tapi, bukankah kesiapan dan ketepatan bukan di benak kita? Bukankah kita tak akan pernah tahu kapan kita siap dan kapan merasa tepat? Terkadang, saat ketidaksiapan dan ketidaktepatan menghantui, saat itulah Tuhan berkata inilah saat yang tepat. Diliputi rasa kekhawatiran tak berujung membuat goyahnya kepekaan. Daripada dipaksakan, memang lebih baik berhenti untuk mencari jawaban. Bukan, bukan maksud hati egois bergulat dengan diri sendiri. Akan lebih baik jika aku mencoba berdamai dengan hati sebelum berdamai dengan keadaan. Lagi-lagi, kita akan memilih untuk nyaman dalam kesakitan yang kita pilih sendiri.
Semoga mengerti
Ini mau hati