Maaf kala senja tidak lagi sejingga dulu
Ampuni jika hawa sejuk beralih hangat menyengat
Sayang.. alam berubah total
Aku tak lagi berpihak pada masa lalu
Sudah berapa lama aku berjalan, mencoba menghilangkan jejak yang terseok-seok akibat ulahmu. Kau tak akan mengerti sebuah arti kehilangan jika kau tak merasakan pedihnya. Sejak kau berpaling, kini kakiku berhasil merangkak lagi meski kaku. Hatiku terpaku, air muka membatu.
Berlalulah semaumu. Kejarlah angin bisu yang menarik perhatianmu. Aku tak lagi peduli akan hal itu. Karena kamu sama saja seperti angin lalu. Berlarian mengejar yang tak nampak, yang belum tentu memihak. Sebut saja dia harapan.
Sama. Aku pernah menyebutmu sebuah harapan. Tapi maaf, bukan ini harapan yang ku inginkan.
Selamat tinggal,
Penikmat Angin Lalu
No comments:
Post a Comment