Seperti roda berputar, ada saatnya manusia berada dalam titik terendah. Bukan karena pelemahan pencitraan yang selama ini diagungkan, namun sudah waktunya ego menyingkir. Benang yang dirajut tanpa unsur kepercayaan tentu saja tak akan sesuai dengan yang dihendaki. Jika hati boleh berbicara sejenak, ia akan berteriak lantang. Akhirnya topeng ini kadaluarsa! Berhentilah membungkamku, kira-kira seperti itulah nantinya.
Kita pernah saling percaya untuk satu tujuan yang sama. Aku menjadi tangan, kau menjadi kaki. Aku menjagamu dengan sentuhan, kau menjagaku dengan kekuatan. Berjalan beriringan tanpa berniat melepaskan. Kita pernah berjanji mengikuti kehendak sang pemilik raga. Kemana pun Ia akan menuntun, kita akan mengekor di belakang. Kau masih ingat, bukan?
Kala kata terucap tanpa melewati proses pemilahan, saat itu pula aku (seperti) memercikkan api perlawanan. Ah, bukan maksud melawan, hanya saja mencoba memperbaiki sesuatu yang kuanggap salah. Setiap orang pasti punya cara berpikir yang berbeda. Kita terbentuk dengan cara yang sama, namun perjalanannya tak akan pernah sama. Kau pun mengasap, hampir berkobar. Ada yang salah padamu, padaku, pada kita.
Duduklah sejenak bersamaku, kawan. Ada yang kusut dalam rajutan pemahaman di kepala. Kita hanya tanpa sengaja bercabang. Mungkin rasa percaya memudar kala hujan mengalir di pelupuk mataku. Atau kah matahari terlalu menyengat hatimu hingga membakar api cemburu. Karena hujan dan matahari tak pernah bisa bersatu. Kita hanya butuh pelangi untuk mengakhiri semua.
Uraikanlah secara perlahan. Tidak ada yang salah pada pertentangan hujan dan matahari. Benang yang kusut akan terurai jika kau mampu bersabar. Roda kehidupan yang terus bergulir pun ada saatnya mencapai puncak jika kau berdiri tegak. Kita hanya salah memahami bahwa hidup bukan selalu tentang ingin dipercaya. Hidup adalah bagaimana keteguhan berada dalam satu jalur yang kau percaya saat dikelilingi oleh persimpangan.
Kau hanya butuh percaya
Percaya....
No comments:
Post a Comment